| Pembuatan Jatikon Kabupaten Dompu |
| Jumat, 22 Agustus 2008 17:06 |
|
Titik kontrol merupakan titik yang memiliki koordinat pasti. Diharapkan nantinya titik kontrol ini menjadi titik ikat atau titik awal (starting point) bagi kegiatan pra-kondisi pengelolaan hutan dan kegiatan lain yang membutuhkan informasi spatial sebagai pengganti titik markan atau triangulasi yang masih berkoordinat lokal. Jaringan Kontrol Horisontal Nasional (JKHN) ordo 0 dan ordo 1 yang dibuat oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) masih terbatas dan lokasinya cukup jauh dari batas-batas kawasan hutan. Jatikon yang dilaksanakan Baplan (ordo 2) biasanya diletakkan di fasilitas desa yang berdampingan dengan hutan. Untuk mengatasi kurangnya titik kontrol tersebut BPKH Wilayah 8 merapatkan pembuatan titik kontrol dengan cara pengikatan pada titik kontrol yang telah diketahui koordinatnya. Metoda penentuan posisi titik-titik kontrol dilakukan dengan pangamatan pada satelit dengan alat “Receiver Global Positioning System (GPS)” yang dipasang pada jam yang sama dengan jangka waktu tertentu. Titik yang direncanakan di Kabupaten Dompu berjumlah 10 (sepuluh) titik tersebar mulai dari birunya laut bagian selatan hingga kecantikan Gunung Tambora di sebelah utara yaitu titik NK3.15071-80. Sedangkan titik yang diamati berjumlah 13 yaitu titik yang baru ditambah titik ikat dari jatikon pusat dan BAKOSURTNAL. Perjalanan diawali dengan konsultasi ke Dinas Kehutanan Propinsi NTB dan Dinas Kehutanan Kabupaten Dompu. Dari sinilah didapat informasi perkiraan lokasi titik dan Satuan Pemangkuan Hutan (SPH) di daerah tersebut. Bapak-bapak dari SPH Hu’u, Pajo, Woja, Manggelewa, Kempo dan Pekat inilah yang mendampingi tim jatikon. Mulai dari tim reconaissance yang bertugas untuk menentukan lokasi titik dan memasang pilar hingga tim pengamatan yang bertugas mengamati koordinat menggunakan alat Global Positioning System (GPS) Geodetik. Setelah menentukan titik tempat pemasangan dengan GPS handheld dan menyiapkan lubang untuk pilar, tim reconaissance mencari rekanan untuk membuatkan pilar masing-masing 1 pilar besar dan 3 pilar kecil sebagai referensi untuk satu titik kontrol . Setelah pilar jadi kemudian diangkut dan dipasang pada masing-masing lokasi. Setelah itu tim pengamatan dapat bergerak untuk memulai tugasnya. Titik yang paling selatan adalah NK3.15071 menampilkan pemandangan hutan disisi utara dan laut disisi selatan. Beberapa orang bersliweran untuk mencari lokasi memancing. Titik berikutnya adalah titik dari jatikon pusat, disini kami disambut keramahan warga Nangadoro bahkan dulu ada yang pernah ikut kegiatan enumerasi. Titik berikutnya NK3.15072 masih di berada kawasan hutan Toffo Rompu, menyeberangi sungai Daha. Di lokasi ini pengamat dibuat sangat was-was dengan hadirnya hujan, meskipun ada dangau untuk berteduh tetapi arus sungai terus meninggi. Untunglah masih dapat diseberangi meskipun dengan susah payah. Pada saat pengamatan di titik NK3.15073 yang berada di kawasan hutan Pajo hujan juga sempat membuat pengamat panik karena rombongan semut berlomba–lomba berlindung di kontainer GPS. Titik selanjutnya NK3.15074-76 berada di kawasan hutan Riwo. Pencarian titik NK3.15074 ini sempat terlewat tetapi untung belum jauh sampai ke Pantai Ria yang berkilo-kilo meter jauhnya. Sedangkan titik NK3.15075 berada di lokasi kuburan yang sempat membuat miris ketika memulai pengamatan, namun bagaimana lagi tempat tersebut dipilih karena terbuka sehingga baik untuk pengamatan dengan GPS Geodetik. Sedangkan di lokasi NK3.15076, tinggal pilih tidak bisa gerak karena sepatu terbenam lumpur atau baju ditarik duri. Berikutnya adalah titik yang dibuat BAKOSURTANAL di Tolokalo, benar-benar sunyi cocok untuk dibuat tidur-tiduran di rumputnya yang tebal. Lokasi NK3.15077-80 berada pada kawasan hutan Tambora. Lokasi ini menyajikan pemandangan yang menakjubkan tetapi jalan yang rusak dan menanjak tak urung membuat tim jatikon ambruk. Apalagi berkejaran dengan waktu mulai pengamatan yang harus sama persis antara 2 GPS. Kawasan savanna dengan latar belakang Gunung Tambora di sepanjang perjalanan menuju desa Doropeti membuat kita takjub. Masih ada satu titik yang harus ditempuh yaitu titik jatikon pusat yang berada di kantor Desa Pekat sebagai penutup. Hasil pengamatan ini kemudian diolah di kantor BPKH Wilayah VIII dengan sofware sehingga didapatkan hasil titik koordinat enhancement pada pilar tersebut. Program ini memberikan rerata koordinat yang didapat dari GPS. |
Kawasan Hutan di Provinsi Bali dan NTB dibagi dalam kelompok - kelompok hutan. Selengkapnya...Home | RSS Feed Proudly Powered by Joomla by : bpkh wilayah VIII | Supported by : bpkh wilayah 8 | CSS | XHTML