Hari pertama diawali dengan kunjungan ke kelompok tani HKm di Desa Pejarakan, Kabupaten Buleleng. Permasalahan yang dihadapi adalah belum keluarnya ijin usaha pengelolaan hutan kemasyarakatan dari Menteri Kehutanan. Padahal sejak awal dicanangkannya HKm, masyarakat telah masuk ke dalam kawasan. Jenis yang ditanam pada saat itu, sengon, telah mulai masak tebang bahkan mulai terserang hama.

Telah ada upaya koordinasi dan surat-menyurat untuk menyelesaikan persoalan ini.Dalam diskusi selama kunjungan ini ketertarikan lebih banyak ke arah proses pengajuan ijin HKm dan kelembagaan kelompok. Banyak pengalaman sulit untuk membentuk kelompok, kadang kelompok yang telah terbentuk tidak aktif. Kelompok disini pun memiliki kendala, belum memiliki perencanaan yang  matang.

Hari kedua setelah presentasi tentang pengalaman HKm langsung dilanjutkan dengan diskusi  dengan metode world cafe. Dibagi kelompok-kelompok mendiskusikan tentang sukses, perluasan dan tahubja HKm. Setelah selesai hasil diskusi ditulis pada plano dan dimulailah world cafe. Setiap kelompok harus memiliki seorang penjual hasil diskusi, sedangkan anggota yang lain keliling untuk bertanya pada kelompok lain. Atau dapat pula menempelkan catatan pada hasil kelompok lain tersebut.

Hari ketiga, masih diskusi! Kali ini dengan metode fish bowl, masing-masing kelompok harus mendiskusikan 3 hal : HKm berhasil bila… HKm Meluar dengan cepat bila… Tahubja harmonis bila… Setelah selesai diskusi, setiap kelompok harus memiliki promotor, yang akan duduk pada salah satu kursi yang telah disediakan. Kursi lain dapat diisi siapa saja dengan posisi sebagai suporter, chalanger dan penanya. Suporter adalah orang yang mendukung pendapat dari promotor. Chalanger sebaliknya, menganggap bahwa pendapat suporter tidak benar.

Catatan akhir hasil diskusi dari fasilitator (INSIST)  :

  1. Membangun HKm masih hasil hutan kayu seperti pohon
  2. Apresiasi pada pendukung HKm, yang merupakan orang-orang yang progresif
  3. Social justice in forestry, muncul bahasan tentang manusia, yang dibicarakan tidak melulu pohon
  4. Payung hukum, kasitas, partisipasi, dukungan, keadilan sosial

Di negara kita bangga bahwa kehutanan tetap ada, ada Dephut dan fakultas khusus